Widget HTML Atas

Kondisi Malioboro, Setelah Yogyakarta Terpapar Covid-19

Kondisi Malioboro, Setelah Yogyakarta Terpapar Covid-19

Kondisi Malioboro, Setelah Yogyakarta Terpapar Covid-19

Suasana Jalanan Malioboro Yogya, Titik Nol Kilometer dan Taman Pintar Yogyakarta
Yogyakarta - Virus corona atau Covid-19 yang mewabah di beberapa kota di Indonesia, membuat pemerintah di beberapa kota di Indonesia, meminta warganya mengurangi aktivitas di luar rumah.

Di Yogyakarta, terutama di Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer tampak lengang, pada Selasa 17 Maret 2020. Jalur pedestrian di sisi timur dan barat, yang biasanya disesaki wisatawan saat siang hingga malam terlihat sepi. Bangku bangku di jalur itu banyak kosong. Tak ada lagi penjual sate, jajanan atau asongan yang berseliweran.

Para pelapak kaki lima baik kuliner di sisi timur dan pedagang kaki lima di sisi barat Malioboro, tampak bertahan dan beroperasi seperti biasa. Namun wisatawan yang biasanya memenuhi lapak-lapak kali lima itu tak seramai biasanya. Bisa dihitung dengan jari.

Situasi serupa tampak di depan Malioboro Mall. Sepanjang selasar depan pusat perbelanjaan itu juga sepi aktivitas. Sementara itu, Pasar Beringharjo dan kuliner jalanan di sekelilingnya, tetap buka seperti biasa. Namun tak ada lagi kerumunan wisatawan yang berburu batik di pasar itu seperti yang menjadi pemandangan sehari hari.

Kondisi Malioboro, Setelah Yogyakarta Terpapar Covid-19


Lalu lintas Malioboro tampak lengang. Walaupun andong dan becak juga masih beroperasi, namun sebagian besar hanya tampak parkir di tepi jalan.

Adapun suasana di Titik Nol Kilometer yang selalu jadi spot favorit untuk berkumpul sambil berfoto dari pagi hingga subuh, juga lengang. Biasanya wisatawan berswafoto di lokasi itu, dengan latar gedung Bank BNI, Kantor Pos, dan Gedung Bank Indonesia.

Sedangkan di Taman Pintar masih tampak segelintir wisatawan yang datang walaupun arena parkir bus di depan wahana itu tampak kosong.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) dan mengisolasi wilayah atau lockdown untuk merespon kasus virus corona di Yogyakarta.

Namun, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X (Sultan HB X) sebelumnya menuturkan, agar dalam situasi serangan wabah virus corona ini, dilakukan penundaan pelaksanaan sejumlah agenda budaya. Meskipun acara tersebut sudah disiapkan pemerintah, lembaga, maupun kelompok masyarakat demi mengantisipasi penularan virus itu di Yogyakarta.

Sultan HB X juga meminta upacara tradisi Keraton seperti Tingalan Jumenengan atau peringatan kenaikan tahta yang hendak digelar Maret ini ditunda. Selain itu Sultan juga meminta event Selasa Wage atau hari saat Jalan Malioboro bebas kendaraan bermotor ikut ditunda sementara.

Sebab biasanya saat Selasa Wage itu di jalanan Malioboro, penuh kegiatan budaya yang dibuat masyarakat dan pemerintah serta menjadi titik kumpul massa. 
Kondisi Malioboro, Setelah Yogyakarta Terpapar Covid-19
Selasa Wage di jalanan Malioboro

Sultan HB X meminta acara-acara budaya diganti dengan gerakan pencegahan seperti pembersihan wilayah masing-masing, “Saya berharap aktivitas yang terpusat seperti di Selasa Wage itu juga bisa diubah menjadi aktivitas (lebih internal) seperti bersih desa di kampung atau desa masing-masing,” ujar Sultan HB X, usai menggelar rapat dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah atau Forkominda DIY di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin, 16 Maret 2020.

No comments for "Kondisi Malioboro, Setelah Yogyakarta Terpapar Covid-19"